PT Pertamina (Persero) akan memperluas sarana kilang punya perseroan di Kasim, Sorong, Papua Barat sehingga bisa terima pasokan minyak tambahan. Tambahan minyak dibutuhkan sebab utilisasi kilang Kasim saat ini tidak mencapai 100 persen.
Direktur Pengolahan Pertamina Toharso menuturkan, kilang Kasim miliki kapasitas intake terpasang 10 ribu barel per hari. Namun, kini kilang itu cuma bisa memproses 6 ribu hingga 7 ribu barel per hari, atau 60 % hingga 70 % dari kapasitasnya. Adapun, minyak didatangkan dari Blok Kepala Burung yang dioperatori Petrochina International Ltd.
Untuk itu, Pertamina coba mendatangkan minyak minyak mintah dari luar Papua untuk memasok kilang Kasim sehingga utilisasinya ulang maksimal.
“Jadi, kilang ini tidak bisa memproses bersama full capacity. Dipaksakan pun tidak bisa sebab sumber minyaknya cuma segitu. Caranya adalah didatangkan crude dari luar Sorong dan itu perlu dipersiapkan,” jelas Toharso ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR.
Ia menuturkan, lebih dari satu perluasan sarana akan dilakukan, antara lain pada dermaga jetty sehingga bisa menampung kapal tanker besar berkapasitas 200 ribu barel dengan Macnaught Flow Meter sekali angkut.
Namun, sebab kapasitas kilang yang kecil, maka barang muatan tanker itu tak dan juga merta langsung diproses di kilang. Untuk itu, Pertamina terhitung akan membangun tangki penyimpanan bersama ukuran 4×100 ribu barel yang terdiri dari dua tangki hasil memproses dan dua tangki minyak mentah.
Sayang, ia tak hapal keperluan investasi untuk proyek ini. Namun yang pasti, perluasan sarana ini akan di mulai akhir th. nanti dan selesai setahun kemudian.
“Sekarang ini sedang direncanakan untuk pembangunannya. Tanahnya udah ada, izinnya sedang diurus. Lelang kontraktor kemungkinan menunggu hingga akhir th. ini,” tambahnya.
Jika udah selesai, nantinya Pertamina akan mendatangkan minyak mentah dari blok Cepu untuk memasok kilang Kasim. Selain itu, tak menutup kemungkinan bahwa minyak impor akan digunakan untuk memasok kilang Pertamina paling timur ini.
Ia terhitung bilang, perluasan sarana kilang ini perlu dipercepat sebab pasokan dari Petrochina terus menurun tiap tiap tahunnya. Apalagi, blok Kepala Burung udah berproduksi sejak dekade 1970an.
Selain itu, kilang Kasim terhitung berfungsi untuk memasok Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar untuk wilayah Papua dan sekitarnya. Adapun, mengkonsumsi BBM di wilayah Papua saat ini tercatat 24 ribu barel per hari.
“Secara bisnis kilang itu memang rugi. Tapi kita tidak boleh menutupnya. Kilang itu perlu senantiasa produksi, apalagi perlu memproses 10 ribu barel per hari demi mencukupi keperluan 24 ribu barel per hari mengkonsumsi BBM Indonesia Timur,” pungkasnya.
Sebagai informasi, kapasitas terpasang semua kilang Pertamina saat ini berjumlah 853 ribu barrel per hari, atau 81,78 % dari kapasitas keseluruhan sebesar 1,043 juta barrel per hari. Padahal, keperluan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta barrel per hari, sehingga BBM memproses didalam negeri baru mencukupi 54,05 % dati kebutuhan.
Namun, di sedang sentimen badai Harvey, pelaku pasar terhitung sedang menunggu knowledge memproses minyak mentah yang akan dikeluarkan American Petroleum Institute (API) pada hari Selasa dan knowledge Energy Information Administration (EIA) di hari Rabu.