Sinopsis Film Milea: Suara dari Dilan

Film bioskop romantis 2012, Setelah sukses dengan kisah romansa antara Dilan dan Mile dalam film Dilan 1990, kini kisah mereka kembali dilanjutkan dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Ya, sudut pandang dari sosok Milea.

Sinopsis Film Milea: Suara dari Dilan

Cerita Milea: Suara dari Dilan sekarang tidak lagi mengenai sepasang muda-mudi SMA yang kembali menjalin cinta, tetapi suara hati Dilan yang tertuang sepanjang merajut cinta dengan Milea.

Dalam kata lain, Milea: Suara dari Dilan ialah verifikasi Dilan (Iqbaal Ramadhan) atas cerita cinta dengan Milea (Vanesha Prescilla) yang dinarasikan dalam dua film awalnya.

Narasi dalam film ini sendiri juga masih mengadopsi cerita dari novel yang dicatat Pidi Baiq.

Milea: Suara dari Dilan dibuka dengan figur Dilan dewasa yang menulis narasi cinta versinya selesai membaca dua buku dari cerita yang dikisahkan Milea.

Cerita diawali dengan deskripsi sepintas background keluarga dan periode kecil Dilan yang cukup konyol saat sebelum berjumpa Milea.

Kemudian, 15 menit awalnya film diteruskan dengan beberapa flashback atas ‘PDKT’ Dilan ke Milea hingga kemudian menjalin cinta, sama seperti yang dikisahkan pada film pertama, Dilan 1990.

Macam flashback ini cukup menolong untuk pemirsa pemula yang melewati dua film awalnya.

Bekasnya, jalur Milea: Suara dari Dilan dibikin mundur-maju dengan peristiwa di Dilan 1991, khususnya saat jalinan Dilan-Milea mulai hadapi perselisihan.

Antara perselisihan itu ialah Dilan yang mulai cemburu dengan kedatangan pria lain disebelah Milea, sampai akhirnya dia berserah dengan Milea yang kokoh mengungkung Dilan tidak lagi tergabung dengan geng motor.

Ingat film ini dibikin bertepatan dengan Dilan 1991, detil tehnis sampai peranan setiap watak tidak alami peralihan memiliki arti.

Terhitung beragam kekurangan yang berada di film ke-2 , seperti rambut ikatan Vanesha yang mengusik, dandanan muka yang terlampau menor untuk siswa SMA, dan emosi beberapa watak yang kurang sampai, juga masih tetap ada dalam Milea: Suara dari Dilan.

Masalah narasi, Fajar Bustomi yang ditolong si empunya narasi, Pidi Baiq, dalam penyutradaraan memang termasuk setia dengan cerita novelnya. Pelukisan narasi mayoritas cukup sebagai wakil dari yang ada pada novel.

Namun, saat narasi dipindah ke media film, rasanya narasi ini akan dapat semakin menarik jika semenjak awalnya ada pemikiran Dilan turut serta dalam dua film awalnya.

Mode cerita yang saklek dengan novel itu membuat Milea: Suara dari Dilan sebenarnya ialah kelompok gambar kenangan dari 2 film awalnya, dengan beberapa episode yang diperpanjang dan tampilkan suara hati Dilan.

Secara narasi, pemikiran Dilan memang membuat narasi Dilan-Milea menjadi lebih komplet. Minimal, hal tersebut memberi ruangan ‘pembelaan’ ke Dilan jika permasalahan di antara dua remaja itu tidak seutuhnya salah pria muda itu semata-mata.

Perpisahan Dilan-Milea juga pada akhirannya tergambar secara jelas karena hanya emosi labil remaja dan gengsi semata-mata, yang berbuntut penyesalan saat telah bergerak dewasa.

Hal tersebut kelihatan dari rasa dan masa lalu yang kelihatan dari ke-2 nya walau telah mempunyai masing masih telah memiliki pasangan sendiri sendiri.

 

Selain soal romansa jalinan Dilan-Milea yang membuat beberapa fansnya bimbang, Pemirsa dibuat tak kuat menahan air mata saat melihat adegan ayah Dilan.

hal itu karena nuansa yang terjaga dalam episode itu kurang dapat dilakukan dengan cara alamiah.

Film Milea: Suara dari Dilan ialah gambaran bahwa figur pasangan itu saat telah dewasa.

Sutradara dan film ini cuman tergantung pada peralihan penampilan luar dari Vanesha dan Iqbal untuk memperlihatkan “figur dewasa”, bukannya memperdalam dari sisi emosi dan watak.

Sangat sayang tidak ada perubahan memberikan kepuasan dari 2 watak khusus dalam Milea: Suara dari Dilan, selainnya dari remaja yang didandani semestinya orang dewasa.

Keseluruhannya, Milea: Suara dari Dilan yang tampil semenjak 13 Februari 2020 di semua bioskop, cuman memvisualisasikan problem narasi cinta remaja SMA yang tidak usai berbahagia. Walau demikian, minimal film remaja ini jadi penawar kangen beberapa pecinta cerita Dilan dan Milea untuk sekedar bernostalgia.